Picture-In-View

Informasi Seputar Bali

Tampilkan postingan dengan label Pura di Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura di Bali. Tampilkan semua postingan

Pura Taman Ayun Mengwi Denpasar Bali

 
Pura Taman Ayun adalah Pura Kerajaan Mengwi yang  terletak di Mengwi Desa, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung dan sekitar 18 Km sebelah utara kota Denpasar. Ini adalah tempat indah untuk dikunjungi pada liburan Anda di Bali.  Pura Taman Ayun merupakan salah satu Pura Hindu di Bali menjadi tujuan wisata yang telah dikunjungi oleh banyak wisatawan dari lokal dan asing. Pura ini biasanya dikunjungi oleh wisatawan setelah mengujungi  Pura Tanah Lot karena masih dalam satu rute.
Fungsi Pura Taman Ayun adalah tempat untuk berdoa dalam manifestasi dewa mereka. Hal ini sesuai dengan isi Babad Mengwi dan keberadaan struktur bangunan candi, terutama candi yang terletak di daerah ketiga (Jeroan). Menurut Astadewata, Tuhan khusus dipuja di Pura Taman Ayun adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tuhan Wisnu yang istananya terletak di puncak gunung Mangu. Pura ini adalah Pura Paibon atau Pura untuk memuja Leluhur dari Prati Sentana / ahli waris dari Kerajaan Mengwi.
Pura ini sempat hancur karena Gempa Bumi hebat yang terjadi pada 1917 . Perbaikan secara besar-besaran dilaksanakan tahun 1937, dan Pada tahun 1949 dilaksanakan perbaikan terhadap kori agung, gapura bentar, dan pembuatan wantilan yang besar. Candi bentar dan tugu yang tingginya mencapai 16 meter di halaman bagian dalam pura tersebut dibangun sesuai arsitektur Jawa, sedangkan tugu candi yang kecilberupa tempat duduk dari batu berjumlah 64 buah merupakan tugu leluhur jaman megalitikum untuk mengenang para ksatria yang gugur dalam medan perang.
Pura Taman ayun mempunyai luas 100 x 250 m2, terbagi menjadi, pelataran luar dan pelataran dalam. Pelataran Luar terdapat disisi luar kolam, pelataran Dalam di bagi tiga, yang pertama adalah pelataran dalam pertama adalah tempat untuk istirahat sambil menikmati keindahan pura, yang kedua adalah pelataran dalam kedua tempatnya lebih tinggi dari pelataran dalam yang pertama, disini terdapat 9 relief penjaga setiap penjuru mata angin atau menurut kepercayaan Hindu Bali dikenal sebagai Dewata Nawa Sanga, yang ketiga yaitu Pelataran Dalam ketiga, letaknya paling tinggi, pintu Gelung dengan posisi di tengah akan dibuka hanya pada saat upacara sebagai tempat keluar masuknya arca dan peralatan upacara lainnya. Sedangkan dua pintu lagi yang di kiri dan di kanan berfunsi untuk aktivitas keluar masuk kegiatan sehari hari., di sini tempat yang paling utama dan suci, terdapat beberapa candi dan meru yang merupakan tempat pemujaan.

Pura Lempuyang Luhur di Karangasem

 
Pura Hindu di Bali merupakan manifestasi dari penyembahan terhadap para dewa-dewi yang dipercaya bisa mendatangkan hal positif bagi manusia. Peran dan fungsi sebuah pura di Bali menjadi berganda, yakni sebagai tempat untuk memuja, bersembahyang sekaligus juga sebagai tempat berwisata. Salah satunya yakni Pura Lempuyang yang berada di belahan timur Pulau Bali.

Tiga Mandala

Pura Lempuyang merupakan pura yang paling tua di Bali. Dalam konsepsi Dewata Nawa Sanga atau Sembilan Dewa penguasa sembilan mata angin, pura ini merupakan Sthana Dewa Iswara. Pura Lempuyang sendiri terbagi dalam tiga mandala yaitu Lempuyang Sor, Lempuyang Madya dan Lempuyang Luhur. Berdasarkan lontar Markandeya Purana, Pura Lempuyang didirikan oleh Rsi Markandeya sekitar abad ke-8 M. Pada saat itu Rsi Markandeya membuat sebuah pesantrian untuk keperluan persembahyangan sekaligus membabarkan ajaran Hindu.

Pesantrian tersebut diperkirakan berada pada lokasi Pura Lempuyang Madya saat ini, di mana di sini beliau dikenal sebagai Bhatara Gnijaya.
Aspek kesejarahan pura ini menjadi sukar diungkap karena data-data yang kuat sukar untuk ditemukan. Namun sejauh ini ada dua hal yang penting menyangkut Pura Lempuyang ini yakni Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Arti kata “Lempuyang” sendiri dalam terminologi Jawa berarti Gunung Gamongan. Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Pura Lempuyang merupakan salah satu dari tiga pura besar selain Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.

Pantangan

Untuk memasuki pura ini ada sejumlah pantangan yang tak boleh dilanggar  karena akan berakibat buruk atau fatal. Pantangan yang dimaksud adalah menghindarkan dari perkataan buruk sebagai laiknya akan mendatangi tempat suci dan disucikan. Demikian juga pengunjung pura ini harus membersihkan segenap hatinya.

Lokasi

Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis. Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari “Pura-Pura” delapan penjuru angin di Pulau Bali.


Sejarah

Sangat Sulit untuk mengungkapkan sejarah Pura Lempuyang Luhur yang terletak di Bukit Gamongan Karangasem itu secara jelas, oleh karena data-data yang kuat sukar di dapatkan. Kesulitan lain lagi ialah sampai kini belum dijumpai “Purana” tentang Pura itu yang diharapkan dapat memberikan keterangan secara jelas. Sementara itu baru diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur yang sifatnya tidak langsung, ialah keterangan dalam prasasti Sading C type :Tinulad” dan keterangan yang terdapat dalam lontar Kutarakandha Dewa Purana Bangsul.

1. Prasasti Sading C

Naskah turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang isinya menyebutkan sebagai berikut ” Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari itu beliau  Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin perang. Karena beliau akan pergi ke bali karena disuruh oleh ayahnya yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti.”

2. Prasasti Kutarakanda DewaPurana Bangsul

Didalam Lontar Kutarakanda DewaPurana Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya kira-kira sebagai berikut ” Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang Gnijayaçakti wahai anaknda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah perkataanku kepdada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana”

Dari kedua sumber tersebut diatas ada dua hal yang penting dapat diambil yaitu : Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti “Gamongan” gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura.

Pura Uluwatu di Denpasar Bali

Pura Uluwatu adalah Pura Hindu yang terletak di tepi tebing di bagian selatan semenanjung Bali. Pura ini adalah salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali (enam kelompok besar Pura di Bali), terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung atau sekitar 25 km di selatan Kota Denpasar. Pura ini terletak pada terumbu karang, kira-kira sekitar 80 meter di atas permukaan laut. Terdapat pula hutan kering kecil yang sering disebut Alas Kekeran (hutan larangan) yang merupakan bagian dari Pura dan dihuni oleh banyak monyet dan hewan lainnya. Nama Uluwatu adalah berasal dari kata Ulu yang berarti kepala dan Watu berarti batu. Oleh karena itu Pura Uluwatu berarti Pura yang dibangun di ujung terumbu karang.
Mpu Kuturan, seorang Pendeta Hindu dari Jawa, mendirikan Pura ini pada abad ke-10. Pada abad ke-15 Pendeta besar Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra, memilih Pura Uluwatu sebagai tempat terakhir di dunia, sejarah mencatat bahwa Danghyang Nirartha mencapai moksa (bersatu dengan Tuhan) ketika bermeditasi di Uluwatu. Legenda juga menyebutkan kepada kita bahwa Danghyang Nirartha adalah arsitek dari Pura-Pura yang indah, serta banyak Pura besar lainnya di Bali, Lombok, dan Sumbawa.
Di balik Meru utama (pagoda) pada Pura Uluwatu, terdapat sebuah patung batu gamping perwujudan Brahman yang memandang Samudera Hindia, dikatakan patung tersebut merupakan perwujudan dari Danghyang Nirartha. Di dalam komples Pura terdapat perahu yang diyakini sebagai milik Danghyang Nirartha ketika melakukan perjalanan dari Jawa.
Yang terkenal dari Pura Uluwatu adalah arsitektur yang luar biasa di batu karang hitam, dirancang indah dengan pemandangan spektakulernya. Terkenal tidak hanya karena posisinya yang unik, Uluwatu juga merupakan salah satu Pura tertua di Bali. Menjadi tempat berselancar yang populer untuk orang yang sangat berpengalaman, Uluwatu menawarkan sudut pandang yang indah untuk melihat matahari terbenam yang spektakuler. Warung-warung kecil berjajar di tebing menawarkan tempat nyaman untuk memandang Samudera Hindia yang luar biasa luas. Monyet menghuni Pura dan tebing dengan wajah penuh harap untuk pisang atau kacang dari para pengunjung.
Sangat mudah untuk menemukan Pura Uluwatu, di mana anda bisa sampai dengan segala jenis kendaraan.Terdapat jalan yang baik melewati desa Jimbaran dan pergi dengan satu jalan menuju Pura ini. Sekitar 45 menit dari Nusa Dua, atau 1 jam dari Kuta atau Tuban. Dari Nusa Dua, akan melalui jalan berbukit melewati Pecatu. Jika anda dari Kuta, maka anda akan melalui Kedonganan dan Jimbaran untuk membawa anda di sini.

Pura Goa Lawah di Klungkung Bali

 
Pura Goa Lawah merupakan Pura yang juga sebagai tempat obyek wisata Goa lawah yang berlokasi di kabupaten Klungkung kurang lebih 1 jam perjalanan dari kota Denpasar atau 4 km dari pusat kota Semarapura yang merupakan ibu kota kabupaten Klungkung. Pura Goa lawah terletak di desa Pesinggahan, kecamatan Dawan, kabupaten Klungkung.

Goa Lawah terdiri dari 2 suku kata yaitu goa yang berarti goa dan lawah yang berarti kelelawar dimana goa lawah di huni oleh ribuan ekor kelelawar.  Di Bali Pura Goa Lawah merupakan Pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Laut.

Goa lawah sangat menarik untuk dikunjungi karena letaknya strategis dipinggir pantai dengan pemandangan laut dan pulau Nusa Penida di kejauhan serta penataan pantainya yang asri dan indah. Di pantai kadang-kadang wisatawan dapat menyaksikan kegiatan upacara adat dan juga dapat melihat kelelawar bergelantungan di tepi goa. menjadikan objek wisata Bali yang satu ini pantas untuk anda kunjungi bersama keluarga anda saat liburan ke Bali.

 
Keberadaan Pura Goa Lawah ini dinyatakan dalam beberapa lontar seperti Lontar Usana Bali dan juga Lontar Babad Pasek. Dalam Lontar tersebut dinyatakan Pura Goa Lawah itu dibangun atas inisiatif Mpu Kuturan pada abad ke XI Masehi dan kembali dipugar untuk diperluas pada abad ke XV Masehi.

Diceritakan Mpu Kuturan datang ke Bali abad X yakni saat pemerintahan dipimpin Anak Bungsu adik Raja Airlangga. Airlangga sendiri memerintah di Jawa Timur (1019-1042). Ketika tiba, Mpu Kuturan menemui banyak sekte di Bali. Melihat kenyataan itu, Mpu Kuturan kemudian mengembangkan konsep Tri Murti dengan tujuan mempersatukan semua sekte tersebut Mpu Kuturan pula yang mengajarkan pembuatan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali serta mengukuhkan keberadaan Kahyangan Jagat yang salah satunya adalah Goa Lawah.

Dalam Lontar Usana Bali dinyatakan bahwa Mpu Kuturan memiliki karya yang bernama ”Babading Dharma Wawu Anyeneng’ yang isinya menyatakan tentang pendirian beberapa Pura di Bali termasuk Pura Goa Lawah dan juga memuat tahun saka 929 atau tahun 107 Masehi.




Umat Hindu di Bali umumnya melakukan Upacara Nyegara Gunung sebagai penutup upacara Atma Wedana atau disebut juga Nyekah, Memukur atau Maligia. Upacara ini berfungsi sebagai pemakluman secara ritual sakral bahwa atman keluarga yang diupacarai itu telah mencapai Dewa Pitara. Upacara Nyegara Gunung itu umumnya dilakukan di Pura Goa Lawah dan Pura Besakih salah satunya ke Pura Goa Raja.

Pujawali atau piodalan di Pura Goa Lawah ini untuk memuja Bhatara Tengahing Segara dan Sang Hyang Basuki dilakukan setiap Anggara Kasih Medangsia. Di jeroan (bagian dalam) Pura, tepatnya di mulut goa terdapat pelinggih Sanggar Agung sebagai pemujaan Sang Hyang Tunggal. Ada Meru Tumpang Tiga sebagai pesimpangan Bhatara Andakasa.

Ada Gedong Limasari sebagai Pelinggih Dewi Sri dan Gedong Limascatu sebagai Pelinggih Bhatara Wisnu. Dua pelinggih inilah sebagai pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Basuki dan Bhatara Tengahing Segara. 

Pura Besakih di Karangasem Bali

Pura Besakih adalah tempat persembahyangan agama Hindu di Bali dan di Pura ini tidak hanya terdapat satu Pura, tetapi banyak Pura. Karena begitu banyaknya terdapat Pura dalam satu wilayah, maka Pura Besakih di Bali adalah Pura terbesar di Indonesia. Pura Besakih Bali juga sering disebut dengan nama Pura Agung Besakih. Lokasi Pura Besakih terdapat di Desa Besakih, KecamatanRendang, Kabupaten Karangasem, Bali. 
Pura Besakih Baliterdiri dari 1 pusat Pura yang diberi nama Pura Penataran Agung Besakih dan terdapat 18 Pura pendamping yang berada di sekeliling dari Pura Penataran Agung Besakih. 1 buah Pura Basukian dan 17 Pura lainnya. Jika anda sudah pernah melihat foto-foto dari Pura ini maka anda akan melihat anak tangga yang jumlahnya banyak dan terdapat pintu gerbang yang sangat besar, gerbang inilah pintu masuk ke areal pusat Pura Penataran Agung Besakih.
Pura Besakih di Bali merupakan pusat kegiatan keagamaan bagi umat Hindu Bali dan Pura Penataran Agung Besakih adalah Pura terbesar di wilayah Pura ini. Pura Penataran Agung Besakih paling banyak memiliki tempat atau bangunan untuk persembahyangan yang orang Bali sebut dengan nama Pelinggih dan merupakan pusat dari Pura ini.Pura Besakih merupaka Pura terbesar umat Hindhu di Bali.

Sejarah Pura Besakih

Pura Agung Besakih di Bali sudah terkenal sampai ke macanegara, begitu banyak wisatawan asing atau domestik yang berwisata ke tempat ini. Saking besarnya Pura ini, Pura Agung Besakih mendapat nama sebagai ibunya dari Pura di Bali. Anda pasti bertanya siapakah yang membangun Pura ini untuk pertama kali? Awalnya saya juga tidak tahu, tapi setelah membaca buku sejarah tentang Pura di Bali maka saya tahu jawabanya. Pembangun Pura Besakih adalah seorang tokoh agama Hindu dari India yang telah lama menetap di pulau Jawa, nama beliau adalah Rsi Markandeya.
Jika sekarang anda lihat sebuah bangunan Pura megah, dulunya lokasi dari Pura ini adalah hutan belantara. Tentunya anda dapat membayangkan hutan belantara jaman dulu, pastinya akan banyak terdapat binatang. Maaf agak ngelantur sedikit. Konon dikala itu belum terdapat selat Bali seperti sekarang, karena pulau Jawa dan pulau Bali masih menjadi satu dan belum terpisahkan oleh lautan. Karena saking panjangnya pulau yang kita sebut sekarang dengan sebutan pulau Jawa dan pulau Bali, maka pulau ini diberi nama pulau Dawa yang artinya pulau panjang.
Awal mulanyan Rsi Markandeya pendiri dari Pura ini bertapa di Gunung Hyang (Gunung Dieng di Jawa Tengah). Setelah lama bertapa Rsi Markandeya mendapat wahyu untuk merambas hutan di Pulau Dawa dari selatan menuju ke utara. Ditempat perambasan hutan, Rsi Markandeya menanam kendi yang berisikan logam dan air suci. Logam tersebut antara lain logam emas, logam perak,logam tembaga, logam besi dan logam perunggu. Kelima logam tersebut dimasyarakat Bali disebut dengan mama Pancadatu. Selain logam juga turut serta ditanam permata yang disebut Mirahadi yang artinya mirah utama. Tempat penanaman kendi inilah yang disebut dengan nama Basuki yang artinya selamat. Diberikan nama Basuki atau selamat dikarenakan dalam perambasan hutan para pengikut dari Rsi Markandeya selamat melaksanakan tugasnya. Dengan berjalanyan waktu nama Basuki berubah menjadi Besakih.
Pura Rambut Siwi di Jembrana Bali

Pura Rambut Siwi di Jembrana Bali

 
Pura Rambut Siwi adalah salah satu Pura Hindu terbesar di Bali, terletak di Desa Yeh Embang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana di Bali barat. Memerlukan waktu sekitar 2 jam dari Denpasar pergi ke daerah Bali bagian barat atau 30 menit dari Negara. Sangat mudah untuk sampai ke Pura ini dari Denpasar dan hanya cukup mengikuti jalan utama menuju Gilimanuk. Dalam perjalanan ke Gilimanuk, setelah memasuki wilayah Kabupaten Jembrana, anda akan menemukan sebuah Pura di sisi kiri, di mana sebagian besar pengendara menghentikan kendaraannya di tempat ini. Rambut Siwi adalah sebuah Pura Hindu yang indah, terletak di tepi tebing, dengan Samudera Hindia yang luas terhampar di depannya. Pura Rambut Siwi sendiri adalah lokasi dari banyak upacara dan kegiatan keagamaan dalam kalender Hindu di Bali.
Bangunan Pura Rambut Siwi terletak di samping jalan utama Denpasar menuju Gilimanuk. Kita dapat melihat semua kendaraan yang dikendarai oleh umat Hindu setempat akan berhenti sejenak di Pura ini untuk berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan selama perjalanan mereka. Hal ini dilakukan pula oleh masyarakat di Pura-Pura lainnya di Bali seperti pada Pura Goa Lawah dan Pura Pulaki.
Pemandangan yang sensasional dimiliki oleh Pura ini ketika melihat ke arah laut dan ke bawah Pura atau dari pantai menengadah ke arah Pura. Pura utama terletak di atas tebing dan dikelilingi oleh pemandangan Samudra Hindia. Dari puncak tebing, kita bisa melihat bangunan Pura tua di bawah dan terletak tepat di tepi laut. Selain itu, panorama yang indah dari Samudra Hindia yang berwarna biru akan menambah kesan pengalaman anda. Suasana di tempat ini sangat tenang dan baik untuk memulihkan pikiran kita.
Biaya untuk mengunjungi Pura Rambut Siwi cukup murah dan merupakan cara yang sangat baik untuk menghabiskan hari anda di Bali, terutama pada saat matahari terbenam di tempat ini. Pura Rambut Siwi jauh dari keramaian dan merupakan kunjungan alternatif dibandingkan dengan Pura Tanah Lot yang merupakan Pura yang paling banyak dikunjungi di Bali. Namun anda harus bersedia melakukan perjalanan yang lebih lama untuk menikmati ketenangan di Pura Rambut Siwi ini.
Pura Rambut Siwi dibuka untuk tujuan wisata di Bali barat dan tempat yang tepat untuk kunjungan selama liburan anda berada di Bali. Ini merupakan salah satu tujuan wisata di Bali atau salah satu tempat-tempat menarik di Bali.